Wildlife Conservation Center (WCC) mengadakan seminar yang bertajuk “Yang Muda yang Mendengar: Penggunaan Teknologi Bioakustik untuk Konservasi Satwa Liar” pada hari Kamis (18/03). Kegiatan yang diadakan melalui Zoom Meeting ini terselenggara atas kerja sama dengan Wildlife Conservation Forum (WCF) Yogya, Universitas Atma Jaya, Fakultas Biologi UGM, Swaraowa, dan Cornell University. Seminar diawali dengan sambutan dari Dr. rer. Silv. Muhammad Ali Imron, S. Hut., M. Sc. selaku ketua WCF Yogyakarta yang juga merupakan dosen Fakultas Kehutanan UGM. Beliau menyampaikan bahwa topik bioakustik diangkat karena banyak anak muda yang aktif meneliti bioakustik, sementara bioakustik belum banyak yang mengerjakan. Diadakannya seminar ini sebagai suatu langkah untuk merintis dan menyiapkan Bioacoustic Center UGM yang segera melakukan penelitian dalam beberapa bulan kedepan, serta membuka kolaborasi.
Seminar yang diikuti 160 peserta dan dimoderatori oleh Dr. Susilo Hadi, M. Si, Ph. D (Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada) terbagi menjadi 3 sesi. Sesi pertama adalah sesi pemaparan oleh keynote speaker beserta tanya jawab, sesi kedua adalah sesi pemaparan dari ketiga narasumber, dan yang terakhir adalah sesi tanya jawab. Keynote speaker, Dr. Wendy M. Erb atau akrab disapa Wendy merupakan peneliti dari Cornell University membawakan materi “Konsep dan Aplikasi Penggunaan Bioakustik”.

Wendy menceritakan bahwa bioakustik dapat digunakan pada berbagai ekosistem dengan cukup mudah dan murah. Bahkan, bioakustik lebih dapat mendeteksi berbagai jenis spesies yang sulit dijumpai dibanding menggunakan survei secara langsung. Di tengah ancaman keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, Wendy menilai perlunya metode yang lebih efisien untuk merancang dan mengevaluasi strategi konservasi. “Selain dapat mengidentifikasi spesies, pendekatan bioakustik juga memungkinkan peneliti untuk mempelajari perilaku, menghitung populasi, hingga monitoring habitat,” ucap Wendy.
Penggunaan bioakustik telah berkembang cepat, pengumpulan datanya pun dapat dilakukan pada areal yang lebih luas, baik pada ekosistem laut ataupun daratan. Penelitian ini telah dilakukan oleh Center of Conservation Bioacoustic (CCB) yang berada di Cornell University. Telah dikembangkan sistem pemantauan akustik bagi paus di Samudera Atlantik, lepas pantai timur laut Amerika Serikat. Selain itu, tim CCB juga melakukan pemantauan akustik terhadap gajah yang berada di hutan tropis Afrika Tengah. Salah satu alat yang dikenalkan oleh Wendy adalah Passive Acoustic Monitoring (PAM). PAM menjadi sebuah alat perekam otonom yang digunakan untuk populasi dan ekosistem, tidak terbatas pada satu individu. Alat ini juga telah digunakan oleh Wendy pada berbagai penelitian yang telah ia lakukan di Indonesia sejak tahun 2005 hingga sekarang. Bagi Wendy, suara alam menjadi bagian integral dari cara orang mengamati dan memahami lingkungan lokal serta hubungannya dengan hutan.
Selanjutnya, sesi dilanjut pada sharing session oleh tiga narasumber. Sesi ini bertujuan untuk memberi ruang bagi para peneliti bioakustik Indonesia untuk menceritakan pengalaman menarik selama penelitian. Pemaparan yang pertama disampaikan oleh Nely Fibriana Rachman, mahasiswa pascasarjana Fakultas Kehutanan UGM yang membahas penelitian beliau yang berjudul “Deteksi Vokal Komunikasi Macaca fuscata di Tepi Hutan”. Nely menyampaikan bahwa panggilan kontak dalam Macaca fuscata ini lebih penting dibandingkan panggilan visual. “Suara bukan hanya sekedar suara, namun memiliki arti dan makna komunikasi antar individu yang sangat penting,” ucapnya.
Pemaparan narasumber kedua disampaikan oleh Nur Aoliya, mahasiswa pascasarjana IPB yang membahas penelitiannya yang berjudul “Variasi Great Call Owa Jawa di Jawa Tengah”. Owa jawa merupakan spesies endemik jawa yang memiliki ciri suara khas masing-masing. Ada 5 jenis suara yang dikeluarkan oleh owa jawa. Salah satunya Great call yang hanya dikeluarkan owa betina, berfungsi untuk menandai daerah teritorialnya. Selain itu juga berfungsi untuk survei populasi (menggunakan metode triangulasi atau point count yang bersumber dari suaranya) monitoring dinamika populasi, mendeteksi pola penyebaran owa dan memverifikasi hubungan kekerabatan (yang kekerabatannya dekat, maka suaranya mirip). Dari penelitian yang dilakukan terdapat variasi great call yang terletak pada pre-trill (tanda pada setiap individu), ini merupakan ciri khas dari great call setiap individu.
Pemaparan narasumber ketiga yang merupakan narasumber terakhir disampaikan oleh Raden Nicosius Liontino Alieser, mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta bercerita tentang hasil kerja prakteknya di Taman Nasional Baluran yang meneliti tentang identifikasi suara burung dengan menggunakan metode bioakustik. Nico menggunakan alat audiomoth serta perekam suaranya lainnya, kemudian data suara yang didapatkan dianalisis dengan menggunakan software Raven Pro 1.6, xeno canto atau e-birds ataupun bantuan birdwatcher dalam mengidentifikasi suara burung yang didapatkan
Pembahasan yang disampaikan ketiga narasumber ini kemudian dibahas oleh Ir. Ign. Pramana Yuda, M. Si, Ph. D., yang merupakan dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Beliau mengatakan bahwa tiga pembicara membicarakan 3 level yang berbeda dalam penggunaan bioakustik. “Wendy dalam pemaparan di awal sesi memberikan pengantar yang berharga yang menunjukkan potensi bioakustik untuk penelitian ekologi satwa dan konservasi, Nely menyampaikan fungsi suara vokal untuk komunikasi pada Macaca fuscata yang nantinya bisa kedepannya diaplikasikan untuk mengurangi konflik Macaca fascicularis dengan manusia. Penjelasan kedua oleh Nur Aoliya berbicara tentang variasi suara Owa jawa pada level individu serta Nico menggali keanekaragaman spesies di suatu habitat. Ini merupakan tantangan dan peluang berkolaborasi bagi teman-teman yang tertarik dalam bioakustik”, ucap beliau di akhir bahasannya.

Bioakustik dapat menjadi suatu alternatif dan peluang bagi pengembangan riset dalam bidang konservasi satwa liar di Indonesia. Seminar online ini menjadi salah satu wadah untuk memperkenalkan konsep dan penggunaan bioakustik bagi dunia konservasi terlebih dalam dalam pengelolaan satwa liar.
Ditulis oleh: Giot Simanullang