• Beranda
  • Fakultas Kehutanan
  • UGM
Universitas Gadjah Mada Laboratorium Pengelolaan Satwa Liar
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Personalia
  • Penelitian
  • Publikasi
    • Jurnal
    • Buku
    • Kekayaan Intelektual
    • Video
  • Kursus & Pelatihan
  • Artikel
  • Galeri
  • Kontak
  • Beranda
  • Artikel populer
  • Mengungkap Kepadatan Mangsa Harimau Sumatra lewat Camera Trap Distance Sampling (CTDS)

Mengungkap Kepadatan Mangsa Harimau Sumatra lewat Camera Trap Distance Sampling (CTDS)

  • Artikel populer
  • 18 Juni 2026, 12.36
  • Oleh: rahmaayu99
  • 0

Hutan hujan tropis Pulau Sumatra masih menyimpan jejak harimau sekaligus menjadi lokasi berbagai upaya konservasi dilakukan. Ancaman terhadap harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) terus meningkat, sehingga diperlukan program konservasi yang tidak hanya berfokus pada harimaunya saja, tetapi juga pada ketersediaan mangsa dan keterhubungan habitatnya. Untuk mengetahui kondisi populasi mangsa di habitat alami, peneliti perlu memperkirakan kepadatan satwa seperti rusa, babi hutan, maupun primata. Salah satu metode yang kini banyak digunakan adalah kamera jebak (camera trap).Paper terbaru yang berjudul “Camera trap distance sampling for density estimation of tiger prey in a Sumatran ecosystem restoration concession” mencoba untuk mengungkap kondisi satwa mangsa harimau sumatra yang dilakukan di kawasan konsesi restorasi ekosistem, PT Alam Bukit Tigapuluh, melalui metode Camera Trap Distance Sampling (CTDS). Berbeda dengan survei kamera jebak yang umumnya dipasang di jalur satwa demi meningkatkan peluang perjumpaan satwa target, metode CTDS mengharuskan kamera dipasang secara acak. Tujuannya agar data yang diperoleh tidak bias dan benar-benar mewakili kondisi satwa di habitat tersebut. Jika kamera dipasang secara terarah di jalur satwa, jalan setapak, atau akses tertentu, hasil estimasi kepadatan dapat menjadi bias karena satwa memang lebih sering lewat. Selain menghitung kepadatan mangsa, penelitian ini juga membandingkan hasil deteksi satwa dari dua strategi pemasangan kamera jebak: pemasangan secara acak untuk metode CTDS dan pemasangan terarah yang berfokus pada keberadaan harimau.

Penelitian ini memperlihatkan bahwa penentuan cara pemasangan kamera jebak bisa menentukan satwa apa yang muncul. Salah satu mangsa penting harimau, yaitu rusa sambar (Rusa unicolor), hanya terekam oleh kamera yang dipasang secara acak. Sebaliknya, delapan spesies karnivora kecil hingga sedang, termasuk satwa penting dan terancam seperti macan dahan dan anjing hutan (dhole), hanya terdeteksi melalui kamera yang dipasang secara terarah di jalur satwa. Temuan ini menunjukkan bahwa kamera yang dipasang tanpa mengikuti jalur tertentu mampu memberikan gambaran yang lebih merata tentang keberadaan satwa mangsa di habitatnya. Sementara itu, kamera yang sengaja dipasang di jalur lintasan satwa lebih efektif untuk menangkap keberadaan predator, termasuk harimau, yang memang kerap menggunakan jalur-jalur tertentu saat bergerak di hutan.

Gambar 2. Perbandingan tingkat deteksi tiap spesies (berdasarkan trap success rate) antara kamera jebak yang dipasang secara acak dan kamera jebak yang dipasang secara terarah.

Lebih lanjutnya, penelitian ini juga menunjukkan bahwa ketersediaan mangsa harimau di kawasan penelitian masih tergolong rendah. Meski demikian, PT Alam Bukit Tigapuluh masih menjadi habitat penting bagi harimau sumatra. Sejak 2020, keberadaan harimau masih terus terpantau setiap tahun, bahkan termasuk individu betina yang diduga berkembang biak. Temuan ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih menyimpan harapan bagi kelangsungan hidup harimau di alam liar. Sayangnya, tekanan terhadap satwa mangsa dinilai masih tinggi. Perburuan liar diduga mencadi ancaman terbesar terhadap populasi mangsa di kawasan ini, apalagi jenis-jenis mangsa harimau juga menjadi target utama perburuan.

Baca penelitian lengkapnya melalui https://doi.org/10.1002/wlb3.01643

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Locally Rooted Globally Respected

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY