• Beranda
  • Fakultas Kehutanan
  • UGM
Universitas Gadjah Mada Laboratorium Pengelolaan Satwa Liar
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Personalia
  • Penelitian
  • Publikasi
    • Jurnal
    • Buku
    • Kekayaan Intelektual
    • Video
  • Kursus & Pelatihan
  • Artikel
  • Galeri
  • Kontak
  • Beranda
  • Artikel populer
Arsip:

Artikel populer

Kicau yang Terperangkap: Ramai di Pasar, Sepi di Hutan

Artikel populer Jumat, 10 Oktober 2025

Pagi di banyak sudut kehidupan di Pulau Jawa, kerap diawali kicau burung dari sangkar yang tergantung di teras-teras rumah. Kicauannya terdengar nyaring, seolah bersaing dengan suara lain yang berhamburan menyambut pagi. Bagi banyak orang Indonesia, kicau burung memang sudah lama jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Suaranya yang merdu dipercaya membawa keteduhan, ketenangan, ataupun hiburan, sementara pasar burung tumbuh menjadi ruang di mana ribuan orang datang untuk mencari “melodi” mereka sendiri. Namun, dibalik keindahan dan tradisi ini, sebuah studi berjudul “Quantifying market prevalence, abundance, and suitable habitats of bulbuls in Java, Indonesia“ mengungkap kenyataan yang mengancam kelestarian salah satu kelompok burung paling populer: cucak-cucakan (bulbuls). read more

Bioakustik untuk Konservasi di Indonesia: Pendekatan Teknologi Melalui Suara

Artikel populerBerita Senin, 25 November 2024

Di tengah ancaman terhadap keanekaragaman hayati global maupun Indonesia, teknologi bioakustik hadir sebagai pendekatan inovatif dalam upaya konservasi. Melalui pemanfaatan suara alam –mulai dari kicauan burung hingga mamalia besar— bioakustik memungkinkan kita untuk melakukan survei ataupun pemantauan. Dr. Muhammad Ali Imron selaku Kepala Laboratorium Pengelolaan Satwa Liar Fakultas Kehutanan UGM, turut melihat kajian ini sebagai ilmu masa depan di bidang konservasi. Apalagi penerapan bioakustik di Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan dalam penanganan masalah konflik manusia-satwa. read more

Gajah Terkecil Sedunia: Penetapan Status Gajah Kalimantan menjadi Endangered oleh IUCN

Artikel populer Jumat, 5 Juli 2024

Gajah kalimantan (Elephas maximus borneensis), subspesies dari gajah asia (Elephas maximus), kini menghadapi ancaman serius yang memicu perhatian internasional. Baru-baru ini, International Union for Conservation of Nature (IUCN) merilis status konservasinya sebagai spesies Endangered/terancam, melalui penilaian yang dilakukan pada November 2023. Kategori status tersebut diberikan kepada spesies-spesies yang menghadapi risiko kepunahan tinggi di alam liar pada waktu yang akan datang. Penetapan status konservasi ini menyoroti urgensi perlindungan dan langkah-langkah konservasi yang lebih efektif untuk menyelamatkan gajah kalimantan dari ambang kepunahan. read more

BORNEO Model: Mensimulasikan Dampak Gangguan Hutan terhadap Pergerakan Orangutan

Artikel populer Jumat, 16 Desember 2022

Apa hal yang paling ditunggu saat melihat orang utan di habitat alaminya? Tentu bisa melihat mereka bergerak bebas kesana- kemari, bergelantungan dari dahan ke dahan untuk mengambil buah masak, lalu dimakan. Namun, bagaimana jika tak banyak lagi dahan yang terhubung?

Meski dikenal sebagai satwa arboreal, ternyata orang utan juga dapat melakukan lebih banyak gerakan terestrial pada kondisi tertentu. Salah satunya, ketika adanya gangguan hutan yang menyebabkan  penurunan kualitas habitat. Hal ini membuat orang utan mau tak mau harus beradaptasi, bahkan mengalami perubahan pola aktivitas harian yang berpotensi menurunkan kebugarannya. read more

Pola Tidur Kukang Jawa Dipengaruhi oleh Cahaya dan Suhu di Sekitarnya

Artikel populer Senin, 21 September 2020

Tidur adalah kebutuhan semua makhluk hidup termasuk satwa liar. Bagi satwa liar yang termasuk diurnal, kebutuhan tidur dipenuhi pada saat malam hari, sedangkan satwa nokturnal termasuk di dalamnya ada kukang Jawa justru tidur pada pagi hari dan beraktivitas pada malam hari.

Kemungkinan kecil singa menyerang ternak yang mempunyai cat mata di punggung

Artikel populer Jumat, 18 September 2020

Predasi hewan ternak oleh predator merupakan tantangan bagi dunia konservasi secara global. Adanya predasi yang dilakulan oleh satwa karnivora besar membuat konflik dengan manusia tidak dapat dihindarkan dan berujung pada penurunan populasi satwa tersebut. Berkaitan dengan permasalahan ini, beberapa peneliti dari The University of New South Wales berhasil menemukan penemuan yang menarik. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa menggambar mata pada tubuh bagian belakang hewan ternak mampu melindungi hewan tersebut dari serangan singa. Golongan kucing besar termasuk singa adalah predator penyergap. Adanya gambar mata pada tubuh belakang ternak membuat predator mengira telah dilihat oleh mangsanya sehingga mereka meninggalkan mangsa itu. Teknik dalam penelitian yang dilakukan di Botswana ini bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif solusi untuk meminimalkan konflik antara manusia dan karnivora besar. read more

Interaksi Spatio-Temporal: Penggunaan Habitat oleh Merak Hijau, Sapi, dan Herbivora Besar di Taman Nasional Baluran

Artikel populer Senin, 14 September 2020

Merak hijau atau Pavo muticus muticus merupakan jenis burung endemik pulau Jawa dengan ciri khas memiliki bulu-bulu berwarna hijau keemasan yang indah. Burung ini mempunyai jambul tegak yang berada di atas kepalanya. Burung ini relatif berukuran besar, namun pandai terbang. Sejak awal abad 20, populasi merak hijau mengalami penurunan drastis akibat pengurangan luas habitat dan perburuan yang menyebabkan kepunahan lokal di beberapa area. Di Jawa, merak hijau masih bisa ditemukan di Taman Nasional Baluran, meskipun demikian populasi yang dapat ditemukan sangat terbatas.

Aktif pada Waktu yang Berbeda, Taktik yang Digunakan oleh Satwa Liar di Taman Nasional Baluran untuk Mempertahankan Hidupnya

Artikel populer Senin, 14 September 2020

Baluran merupakan salah satu taman nasional yang letaknya berada di Banyuwangi, Jawa Timur. Kawasan taman nasional ini kerap dijuluki sebagai Afrika-nya Jawa. Ekosistem hutan musim yang dipadukan dengan hamparan savana yang ada di Taman Nasional Baluran akan mengingatkan kita dengan pemandangan lanskap hutan di Afrika. Keberadaan satwa seperti macan tutul jawa, ajak, kerbau, banteng, rusa jawa, dan kijang semakin melengkapi keeksotisan dari Taman Nasional Baluran.

Efektivitas Kawasan Konservasi di Tengah-Tengah Deforestasi Lanskap Sumatra

Artikel populer Senin, 14 September 2020

Kita tahu bahwa perkebunan sawit merupakan proyek jangka panjang yang memiliki dampak buruk terhadap kawasan hutan. Pada umumnya, kelapa sawit atau Elaeis guineensis ditanam secara monokultur, yang mana sistem tanam itu dapat menyebabkan penurunan kualitas ekosistem lanskap hutan. Dengan demikian perkebunan berkontribusi banyak dalam perubahan keragaman dan sebaran satwa liar, hingga penurunan kekayaan jenis yang dibandingkan dengan hutan asli.
Universitas Gadjah Mada

Locally Rooted Globally Respected

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY