• Beranda
  • Fakultas Kehutanan
  • UGM
Universitas Gadjah Mada Laboratorium Pengelolaan Satwa Liar
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Personalia
  • Penelitian
  • Publikasi
    • Jurnal
    • Buku
    • Kekayaan Intelektual
    • Video
  • Kursus & Pelatihan
  • Artikel
  • Galeri
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Keragaman Anura Menggunakan Pendekatan Bioakustik di Demplot Strategi Jangka Benah (SJB) Karangsari, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah 2021

Keragaman Anura Menggunakan Pendekatan Bioakustik di Demplot Strategi Jangka Benah (SJB) Karangsari, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah 2021

  • Berita
  • 3 November 2021, 08.04
  • Oleh: admin #1
  • 0

Sebuah kesempatan berharga bisa melakukan penelitian kelapangan pada masa pandemi covid19 saat ini. Kami berkesempatan melakukan penelitian mengenai Keragaman Anura Menggunakan Pendekatan Bioakustik. Lokasi penelitian berada di demplot SJB desa Karangsari, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.  Penelitian akustik ini merupakan pilot project dan harapannya dapat digunakan sebagai database bagi monitoring demplot SJB kedepannya. Bagi yang penasaran apa itu SJB bisa mampir ke https://jangkabenah.org untuk informasi lebih lanjut.

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keragaman anura di kebun sawit monokultur, demplot SJB, agroforestri sawit rakyat dan hutan alam. Kemudian membandingkan kemampuan deteksi keragaman anura menggunakan metode Passive Acoustic Monitoring (PAM) dengan metode Visual Encounter Survey (VES).

Pemasangan Song Meter Bioakustik

Penelitian diawali dengan survei lokasi. Kemudian dilakukan pemasangan song meter buatan Wildlife Acoustik pada tiap grid yang telah ditentukan, dengan total grid sebanyak 6 grid. Pemasangan song meter dilakukan di tangah grid sebanyak 1 buah. Ketinggian pemasangan song meter berada pada 1,5 meter di atas permukaan tanah. Song meter di tempelkan di pohon atau  batang sawit menggunakan tali (Gambar 1). Usahakan kondisi sekitar song meter agak terbuka dan tumbuhan atau pohonnya tidak terlalu  rapat agar suara tidak terhalang. Pemasangan song meter di barengi dengan pemasangan logger untuk mengukur suhu dan kelembaban udara. Perekaman dilakukan selama 3x 24 jam untuk tiap gridnya.

Gambar 1. Konfigurasi dan pemasangan song meter untuk mengambil data bioakustik.

Tak lupa kami tempelkan tulisan yang menandakan bahwa ini adalah alat penelitian, beserta nama dan nomor Hp untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan ada alat yang kami gunakan (Gambar 2). Kemudian yang juga harus dilakukan adalah meminta izin sehari sebelumnya pada pemilik lahan setiap akan melakukan pemasangan dan survei agar lebih aman dan tidak dikira maling/ pencuri buah sawit hehehe. Nantinya hasil rekaman suara akan di lakukan analisis dan identifikasi menggunakan bantuan software Raven Pro buatan Cornell Lab of Ornithology, Cornell University.

Contoh 2. Penandaan pada song meter

Survey Pagi dan Malam

Selain melakukan pemasangan song meter, dilakuan juga inventarisasi anura secara langsung menggunakan metode VES with line transek. Survey dilakukan pagi dan malam hari. Survey pagi dilakukan mulai pukul 8 hingga 11, sedangkan survey malam di mulai pukul 18 hingga pukul 21.00 (Gambar 3).

Gambar 3. Pengambilan data satwa

Katak yang paling sering dijumpai adalah jenis Hylarana baramica. Reptil yang paling sering dijumpai adalah kadal Eutropis rudis. Beberapa satwa liar lainnya yang dijumpai antara lain burung, dan mamalia kecil seperti tikus (Gambar 4).

Gambar 4. Beberapa satwa liar yang teramati; (dari atas searah jarum jam) Hylarana baramica, Macropisthodon flaviceps, Varanus salvator, Rattus tiomanicus, Halcyon smyrnensis, Lanius schach

Selain data suara dan satwa, juga diambil data-data lingkungan untuk menjelaskan habitat anura (Gambar 5).

Gambar 5. Pengambilan data habitat

Tantangan

Kondisi jalan berlumpur ketika hujan dan berdebu ketika cerah menjadi salah satu tantangan. Debu dan panas dapat dihalau menggunakan masker, kacamata dan topi. Sedangkan jalanan berlumpur perlu ekstra hati-hati dan ekstra tenaga untuk menyeimbangkan motor agar tetap seimbang (Gambar 6).

Gambar 6. Kondisi jalan setelah hujan

 

Ditulis oleh : Cahyandra Tresno Anggoro

Tags: bioakustik jangkabenah Wildlife conservationist

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Locally Rooted Globally Respected

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY