Di tengah ancaman terhadap keanekaragaman hayati global maupun Indonesia, teknologi bioakustik hadir sebagai pendekatan inovatif dalam upaya konservasi. Melalui pemanfaatan suara alam –mulai dari kicauan burung hingga mamalia besar— bioakustik memungkinkan kita untuk melakukan survei ataupun pemantauan. Dr. Muhammad Ali Imron selaku Kepala Laboratorium Pengelolaan Satwa Liar Fakultas Kehutanan UGM, turut melihat kajian ini sebagai ilmu masa depan di bidang konservasi. Apalagi penerapan bioakustik di Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan dalam penanganan masalah konflik manusia-satwa.
bioakustik
Konflik manusia-gajah (KMG) menjadi suatu masalah yang tidak bisa terhindarkan di tengah persaingan kebutuhan ruang antara manusia dan gajah. Upaya mitigasi konflik dengan early warning system (EWS) sebenarnya telah dikembangkan oleh lembaga lokal, salah satunya GPS collar. Upaya ini memungkinkan posisi gajah dapat terdeteksi lebih dini, namun dalam penggunaannya masih memiliki berbagai tantangan.

Fakultas Kehutanan UGM bekerjasama dengan Tropical Forest Conservation Action-Sumatra (TFCA-Sumatera) mengembangkan sistem informasi yang akan menggunakan teknologi bioakustik dan mobile application yang diterjemahkan sebagai informasi potensi konflik. Program ini membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, sehingga kami sebagai tim pelaksana melakukan audiensi ke beberapa instansi, seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi, Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Frankfurt Zoological Society, dan Forest Programme II.
Ditulis oleh: Giot M I Simanullang
Berbicara tentang gajah sepertinya tidak ada habisnya, mamalia terbesar ini memiliki keunikan tersendiri, mulai dari perilaku, kehidupan berkelompoknya, hingga cara mereka berkomunikasi. Keunikan inilah yang membuat saya ingin mengenal lebih jauh lagi mamalia yang satu ini terlebih tentang cara mereka berkomunikasi, Beberapa bulan yang lalu saya berkesempatan melakukan penelitian tentang vokalisasi gajah di salah satu taman nasional di pulau Sumatera yaitu Taman Nasional Gunung Leuser tepatnya di CRU (Conservation Responses Unit) Tangkahan atau saat ini disebut Pusat Latihan Satwa Khusus, Resor Tangkahan. Untuk menuju lokasi ini dapat dicapai dengan kendaraan umum atau pribadi selama 3-4 jam dari kota Medan. Resor Tangkahan termasuk zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Leuser. Wilayah ini merupakan tempat wisata yang menyimpan banyak potensi dan keindahan di dalamnya, banyak yang menyebutnya “The Real Hidden Paradise“, dan memang benar keindahan sungai. jembatan, hamparan hutan luas dan segala sesuatu di dalamnya memang patut diacungi jempol.
Ditulis oleh: Rahma Ayu Nabila

September lalu, saya menuju ke salah satu taman nasional tertua di Indonesia, Taman Nasional Gunung Leuser. Disambut oleh hujan yang makin deras, jalan berbatu penuh lumpur di tengah- tengah kebun sawit. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Sumatera, memantapkan diri tuk melakukan perjalanan agak ke utara, tepatnya di Conservation Response Unit (CRU) yang merupakan bagian dari Resort Tangkahan, Taman Nasional Gunung Leuser. Dilansir dari crutangkahan.org, CRU Tangkahan didirikan pada 2002 sebagai bagian dari Program Konservasi Gajah Sumatera. Hingga saat ini, terdapat sepuluh gajah Sumatera yang menjadi bagian dari CRU Tangkahan.
Ditulis oleh: Hastin Ambar Asti
Bulan Agustus lalu, saya berkesempatan melihat jejak kebakaran hutan dan lahan gambut tahun 2015 di kawasan Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) CIMTROP, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Selama kurang lebih 20 hari, saya melakukan penelitian mengenai respon komunitas herpetofauna pasca kebakaran di hutan rawa gambut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang respon komunitas herpetofauna terhadap kebakaran di hutan rawa gambut dan informasi tentang daerah yang dapat menjadi refugia dan sumber rekolonisasi pada tahap suksesi selanjutnya. Penelitian ini bisa berjalan dengan lancar atas dukungan dari Borneo Nature Foundation (BNF) dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Sebuah kesempatan berharga bisa melakukan penelitian kelapangan pada masa pandemi covid19 saat ini. Kami berkesempatan melakukan penelitian mengenai Keragaman Anura Menggunakan Pendekatan Bioakustik. Lokasi penelitian berada di demplot SJB desa Karangsari, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Penelitian akustik ini merupakan pilot project dan harapannya dapat digunakan sebagai database bagi monitoring demplot SJB kedepannya. Bagi yang penasaran apa itu SJB bisa mampir ke https://jangkabenah.org untuk informasi lebih lanjut.