• Beranda
  • Fakultas Kehutanan
  • UGM
Universitas Gadjah Mada Laboratorium Pengelolaan Satwa Liar
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Personalia
  • Penelitian
  • Publikasi
    • Jurnal
    • Buku
    • Kekayaan Intelektual
    • Video
  • Kursus & Pelatihan
  • Artikel
  • Galeri
  • Kontak
  • Beranda
  • Pos oleh
  • hal. 4
Pos oleh :

admin #1

Mencari Sebuah Jawaban: Seberapa Jauh Vokalisasi Gajah Sumatera Dapat Terdeteksi?

Berita Selasa, 23 November 2021

Ditulis oleh: Rahma Ayu Nabila

Gambar 1. Agustin, salah satu gajah betina di CRU Tangkahan

September lalu, saya menuju ke salah satu taman nasional tertua di Indonesia, Taman Nasional Gunung Leuser.  Disambut oleh hujan yang makin deras, jalan berbatu penuh lumpur di tengah- tengah kebun sawit. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Sumatera, memantapkan diri tuk melakukan perjalanan agak ke utara, tepatnya di Conservation Response Unit (CRU) yang merupakan bagian dari Resort Tangkahan, Taman Nasional Gunung Leuser. Dilansir dari crutangkahan.org, CRU Tangkahan didirikan pada 2002 sebagai bagian dari Program Konservasi Gajah Sumatera. Hingga saat ini, terdapat sepuluh gajah Sumatera yang menjadi bagian dari CRU Tangkahan. read more

Menjumpai Herpetofauna di Hutan Rawa Gambut LAHG CIMTROP

Berita Kamis, 11 November 2021

Ditulis oleh: Hastin Ambar Asti

Bulan Agustus lalu, saya berkesempatan melihat jejak kebakaran hutan dan lahan gambut tahun 2015 di kawasan Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) CIMTROP, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Selama kurang lebih 20 hari, saya melakukan penelitian mengenai respon komunitas herpetofauna pasca kebakaran di hutan rawa gambut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang respon komunitas herpetofauna terhadap kebakaran di hutan rawa gambut dan informasi tentang daerah yang dapat menjadi refugia dan sumber rekolonisasi pada tahap suksesi selanjutnya. Penelitian ini bisa berjalan dengan lancar atas dukungan dari Borneo Nature Foundation (BNF) dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia. read more

Keragaman Anura Menggunakan Pendekatan Bioakustik di Demplot Strategi Jangka Benah (SJB) Karangsari, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah 2021

Berita Rabu, 3 November 2021

Sebuah kesempatan berharga bisa melakukan penelitian kelapangan pada masa pandemi covid19 saat ini. Kami berkesempatan melakukan penelitian mengenai Keragaman Anura Menggunakan Pendekatan Bioakustik. Lokasi penelitian berada di demplot SJB desa Karangsari, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.  Penelitian akustik ini merupakan pilot project dan harapannya dapat digunakan sebagai database bagi monitoring demplot SJB kedepannya. Bagi yang penasaran apa itu SJB bisa mampir ke https://jangkabenah.org untuk informasi lebih lanjut. read more

Seminar Bioakustik: “Yang Muda yang Mendengar: Penggunaan Teknologi Bioakustik untuk Konservasi Satwa Liar”

Berita Rabu, 31 Maret 2021

Wildlife Conservation Center (WCC) mengadakan seminar yang bertajuk “Yang Muda yang Mendengar: Penggunaan Teknologi Bioakustik untuk Konservasi Satwa Liar” pada hari Kamis (18/03). Kegiatan yang diadakan melalui Zoom Meeting ini terselenggara atas kerja sama dengan Wildlife Conservation Forum (WCF) Yogya, Universitas Atma Jaya, Fakultas Biologi UGM, Swaraowa, dan Cornell University. Seminar diawali dengan sambutan dari Dr. rer. Silv. Muhammad Ali Imron, S. Hut., M. Sc. selaku ketua WCF Yogyakarta yang juga merupakan dosen Fakultas Kehutanan UGM. Beliau menyampaikan bahwa topik bioakustik diangkat karena banyak anak muda yang aktif meneliti bioakustik, sementara bioakustik belum banyak yang mengerjakan. Diadakannya seminar ini sebagai suatu langkah untuk merintis dan menyiapkan Bioacoustic Center UGM yang segera melakukan penelitian dalam beberapa bulan kedepan, serta membuka kolaborasi. read more

Pola Tidur Kukang Jawa Dipengaruhi oleh Cahaya dan Suhu di Sekitarnya

Artikel populer Senin, 21 September 2020

Tidur adalah kebutuhan semua makhluk hidup termasuk satwa liar. Bagi satwa liar yang termasuk diurnal, kebutuhan tidur dipenuhi pada saat malam hari, sedangkan satwa nokturnal termasuk di dalamnya ada kukang Jawa justru tidur pada pagi hari dan beraktivitas pada malam hari.

Kemungkinan kecil singa menyerang ternak yang mempunyai cat mata di punggung

Artikel populer Jumat, 18 September 2020

Predasi hewan ternak oleh predator merupakan tantangan bagi dunia konservasi secara global. Adanya predasi yang dilakulan oleh satwa karnivora besar membuat konflik dengan manusia tidak dapat dihindarkan dan berujung pada penurunan populasi satwa tersebut. Berkaitan dengan permasalahan ini, beberapa peneliti dari The University of New South Wales berhasil menemukan penemuan yang menarik. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa menggambar mata pada tubuh bagian belakang hewan ternak mampu melindungi hewan tersebut dari serangan singa. Golongan kucing besar termasuk singa adalah predator penyergap. Adanya gambar mata pada tubuh belakang ternak membuat predator mengira telah dilihat oleh mangsanya sehingga mereka meninggalkan mangsa itu. Teknik dalam penelitian yang dilakukan di Botswana ini bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif solusi untuk meminimalkan konflik antara manusia dan karnivora besar. read more

Interaksi Spatio-Temporal: Penggunaan Habitat oleh Merak Hijau, Sapi, dan Herbivora Besar di Taman Nasional Baluran

Artikel populer Senin, 14 September 2020

Merak hijau atau Pavo muticus muticus merupakan jenis burung endemik pulau Jawa dengan ciri khas memiliki bulu-bulu berwarna hijau keemasan yang indah. Burung ini mempunyai jambul tegak yang berada di atas kepalanya. Burung ini relatif berukuran besar, namun pandai terbang. Sejak awal abad 20, populasi merak hijau mengalami penurunan drastis akibat pengurangan luas habitat dan perburuan yang menyebabkan kepunahan lokal di beberapa area. Di Jawa, merak hijau masih bisa ditemukan di Taman Nasional Baluran, meskipun demikian populasi yang dapat ditemukan sangat terbatas.

Aktif pada Waktu yang Berbeda, Taktik yang Digunakan oleh Satwa Liar di Taman Nasional Baluran untuk Mempertahankan Hidupnya

Artikel populer Senin, 14 September 2020

Baluran merupakan salah satu taman nasional yang letaknya berada di Banyuwangi, Jawa Timur. Kawasan taman nasional ini kerap dijuluki sebagai Afrika-nya Jawa. Ekosistem hutan musim yang dipadukan dengan hamparan savana yang ada di Taman Nasional Baluran akan mengingatkan kita dengan pemandangan lanskap hutan di Afrika. Keberadaan satwa seperti macan tutul jawa, ajak, kerbau, banteng, rusa jawa, dan kijang semakin melengkapi keeksotisan dari Taman Nasional Baluran.

Efektivitas Kawasan Konservasi di Tengah-Tengah Deforestasi Lanskap Sumatra

Artikel populer Senin, 14 September 2020

Kita tahu bahwa perkebunan sawit merupakan proyek jangka panjang yang memiliki dampak buruk terhadap kawasan hutan. Pada umumnya, kelapa sawit atau Elaeis guineensis ditanam secara monokultur, yang mana sistem tanam itu dapat menyebabkan penurunan kualitas ekosistem lanskap hutan. Dengan demikian perkebunan berkontribusi banyak dalam perubahan keragaman dan sebaran satwa liar, hingga penurunan kekayaan jenis yang dibandingkan dengan hutan asli.
1234
Universitas Gadjah Mada

Locally Rooted Globally Respected

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY