• Beranda
  • Fakultas Kehutanan
  • UGM
Universitas Gadjah Mada Laboratorium Pengelolaan Satwa Liar
Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Personalia
  • Penelitian
  • Publikasi
    • Jurnal
    • Buku
    • Kekayaan Intelektual
    • Video
  • Kursus & Pelatihan
  • Artikel
  • Galeri
  • Kontak
  • Beranda
  • Artikel populer
  • Interaksi Spatio-Temporal: Penggunaan Habitat oleh Merak Hijau, Sapi, dan Herbivora Besar di Taman Nasional Baluran

Interaksi Spatio-Temporal: Penggunaan Habitat oleh Merak Hijau, Sapi, dan Herbivora Besar di Taman Nasional Baluran

  • Artikel populer
  • 14 September 2020, 14.47
  • Oleh: admin #1
  • 0
Merak hijau atau Pavo muticus muticus merupakan jenis burung endemik pulau Jawa dengan ciri khas memiliki bulu-bulu berwarna hijau keemasan yang indah. Burung ini mempunyai jambul tegak yang berada di atas kepalanya. Burung ini relatif berukuran besar, namun pandai terbang. Sejak awal abad 20, populasi merak hijau mengalami penurunan drastis akibat pengurangan luas habitat dan perburuan yang menyebabkan kepunahan lokal di beberapa area. Di Jawa, merak hijau masih bisa ditemukan di Taman Nasional Baluran, meskipun demikian populasi yang dapat ditemukan sangat terbatas.

Merak Hijau yang sedang berinteraksi. Foto oleh Dennis Albihad.

Berdasarkan penelitian dari Van Balen pada tahun 2005, masa depan merak hijau berkaitan erat dengan perburuan. Bukti lainnya ada di Vietnam, jenis Pavo muticus imperator (sub-spesies dari Pavo muticus) menunjukkan bahwa aktivitas manusia dalam bentuk perburuan merupakan faktor penting yang memengaruhi pemilihan habitat. Selain itu, kehadiran hewan ternak (sapi) juga memberikan efek negatif terhadap populasi merak hijau di Vietnam. Hubungan merak dan sapi lebih bersifat kompetisi untuk sumber daya yang terbatas, namun sampai saat ini belum ada laporan ilmiah yang menjelaskan hubungan yang terjadi antara Pavo muticus muticus dan sapi.

Hipotesis lain yang belum terungkap yaitu tentang interaksi merak hijau dan herbivor besar, yang mana kesimpulan umum penelitian terdahulu menunjukkan bahwa keanekaragaman dan kelimpahan burung di Savana Afrika akan menurun dengan kehadiran megaherbivora, seperti gajah dan jerapah, dengan catatan kehadiran herbivor besar tidak akan mengakibatkan dampak negatif terhadap keanekaragaman burung selama kerapatan populasi herbivor besar rendah. Bukti yang lain bahkan menunjukkan pengurangan kerapatan rusa dapat meningkatkan keanekaragaman burung di ekosistem hutan yang ada di British Columbia, Kanada.

Keragaman faktor biotik dan abiotik di Taman Nasional Baluran menjadi keuntungan tersendiri karena dapat digunakan untuk mengkaji interaksi spasial dan temporal antara merak hijau dengan hewan ternak sapi (Bos indicus) dan merak hijau dengan herbivor besar yaitu banteng (Bos javanicus), kerbau (Bubalus bubalis), rusa (Rusa timorensis), dan kijang (Muntiacus muntjak). Meskipun pada masa lampau merak hijau sering dianggap sebagai hama tanaman pertanian, kondisi merak hijau saat ini mengalami tren penurunan populasi, sehingga sudah semestinya merak hijau harus dijaga dan dilestarikan populasinya.

Intreraksi Spasial & Temporal
Interaksi spasial antara merak hijau dengan sapi dan herbivor besar menunjukkan interaksi yang bersifat acak, artinya keberadaan merak hijau tidak dipengaruhi kehadiran sapi dan herbivor besar, kecuali interaksinya dengan rusa. Merak hijau memiliki interaksi positif dengan rusa, artinya keberadaan rusa pada suatu tempat meningkatkan kemungkinan merak hijau untuk menghuni tempat yang sama. Kemudian, merak hijau memiliki pola aktivitas harian (temporal) yang berbeda dengan sapi dan jenis-jenis herbivor besar yang lain. Merak hijau memiliki puncak aktivitas pada pagi hari dan menjelang sore hari.

Co-Occurrence Merak Hijau, Sapi, & Herbivora Besar
Kajian yang dilakukan oleh Prof. Satyawan Pudyatmoko ini memunculkan pertanyaan menarik, mengapa faktor gangguan manusia yang direpresentasikan dengan kedekatan site dengan pemukiman dan aktivitas wisata tidak memengaruhi okupansi merak hijau? Begitu juga kehadiran sapi yang tidak menimbulkan interaksi spasial negatif dengan merak hijau perlu untuk dibahas. Secara umum, penelitian ini mendukung pernyataan Van Balen et al. pada tahun 2005 yang menyatakan bahwa merak hijau memiliki daya adaptasi terhadap lingkungan yang tinggi, yang mana merak hijau terbukti dapat hidup di berbagai tipe habitat seperti savana, hutan musim, hutan pantai, hutan tanaman jati dan juga areal tumpang sari. Penelitian yang dilakukan oleh Hernowo pada tahun 2011 juga mendukung pernyataan bahwa daya adaptasi merak hijau tinggi, yang mana kemungkinan rendahnya kepadatan populasi merak hijau di hutan jati yang dikelola oleh Perhutani disebabkan oleh tingginya laju perburuan.

Untuk semua taxa, populasi satwa yang mengalami gangguan manusia (habitat perkotaan) cenderung lebih toleran dibandingkan dengan populasi-populasi yang sedikit atau tidak mengalami gangguan (habitat desa atau pinggiran kota). Meskipun demikian ada beberapa jenis yang tidak mampu hidup pada lingkungan yang sudah sangat didominasi oleh aktivitas manusia. Burung yang memiliki ukuran tubuh yang besar juga cenderung lebih toleran terhadap gangguan manusia yang bersifat non-lethal daripada burung dengan ukuran tubuh yang kecil. Kedua faktor inilah yang mungkin menjelaskan mengapa merak hijau cenderung toleran terhadap gangguan di Taman Nasional Baluran.

Baca penelitian lengkapnya melalui tautan berikut ini https://jurnal.ugm.ac.id/jikfkt/article/view/46142
Tags: Baluran Merak hijau Wildlife conservationist

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Universitas Gadjah Mada

Locally Rooted Globally Respected

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY