Bumi ditempati oleh jutaan spesies flora dan fauna yang membentuk berbagai ekosistem dengan kekayaan hayati beragam. Sayangnya, seiring dengan perkembangan zaman, perubahan lingkungan secara global seperti perubahan iklim, alih fungsi hutan, hingga penggundulan hutan membuat kondisi keanekaragaman hayati, khususnya satwa liar, kian mengkhawatirkan. Tidak menutup kemungkinan, ancaman dan tekanan yang sedang berlangsung saat ini dapat menjadi penyebab dari kepunahan berbagai spesies hingga kerusakan secara keseluruhan.
Berita
SATWALIAR.FKT.UGM – Mengakhiri bulan Mei, kegiatan pengembangan sistem deteksi dini telah sampai pada agenda sosialisasi yang berlokasi di Hotel Odua Weston, Jambi pada Selasa (31/05/2022). Sosialisasi diselenggarakan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) bertujuan untuk memperkenalkan tujuan serta rangkaian program kepada para stakeholder yang terlibat. Tak hanya itu, sosialisasi ini juga digunakan sebagai penanda dimulainya kegiatan pengambilan data lapangan pada bulan Juni ini.
SATWALIAR.FKT.UGM – Masih dalam rangkaian pengembangan sistem deteksi dini, pembangunan database suara gajah menjadi pondasi penting dalam keberhasilan sistem ini. Pada hari Rabu (11 Mei 2022) dan Kamis (12 Mei 2022), kami mengadakan pelatihan guna meningkatkan kapasitas dan menyiapkan sumber daya dalam pengumpulan dan analisis data suara gajah. Pelatihan kami lakukan di Gadjah Mada University Club dan di Laboratorium Pengelolaan Satwa Liar, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada (UGM).
Tim pelaksanan program menyadari bahwa perencanaan dan perancangan sistem informasi menjadi salah satu dasar penting dalam pembangunan sistem deteksi dini. Senin (18/4), tim pelaksana telah melakukan diskusi secara komprehensif untuk pembangunan sistem informasi deteksi dini Konflik Manusia-Gajah (KMG). Diskusi ini dipandu oleh Febrian Edi Nugroho sebagai moderator, dan diawali dengan sharing hasil audiensi dengan stakeholder di Jambi yang dilaksanakan tanggal 6-8 April 2022. Agenda kedua adalah pemaparan konsep, desain sistem dan desain antarmuka untuk aplikasi android, dan webgis. Lebih rincinya telah membahas mengani Data Flow Diagram, Entity Relationship Diagram, dan Desain User Interface. Kegiatan selanjutnya adalah diskusi yang menghasilkan kesepakatan tim mengenai pengembangan sistem informasi.
Sistem informasi deteksi dini KGM berbasis WebGIS dengan memanfaatkan mobile application dan bioakustik merupakan terobosan baru dalam upaya mitigasi KGM sehingga perencanaannya perlu dibahas secara matang melalui Forum Group Discussion (FGD) (17/03). Diskusi ini difokuskan untuk merancang alur kerja sistem informasi deteksi dini KMG yang efektif, efisien, dan tepat guna. Selain itu, dalam FGD juga akan dibahas mengenai manajemen database bioakustik yang mempunyai peran krusial dalam menunjang jalannya sistem informasi yang akan dikembangkan ini.
Konflik manusia-gajah (KMG) menjadi suatu masalah yang tidak bisa terhindarkan di tengah persaingan kebutuhan ruang antara manusia dan gajah. Upaya mitigasi konflik dengan early warning system (EWS) sebenarnya telah dikembangkan oleh lembaga lokal, salah satunya GPS collar. Upaya ini memungkinkan posisi gajah dapat terdeteksi lebih dini, namun dalam penggunaannya masih memiliki berbagai tantangan.

Fakultas Kehutanan UGM bekerjasama dengan Tropical Forest Conservation Action-Sumatra (TFCA-Sumatera) mengembangkan sistem informasi yang akan menggunakan teknologi bioakustik dan mobile application yang diterjemahkan sebagai informasi potensi konflik. Program ini membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, sehingga kami sebagai tim pelaksana melakukan audiensi ke beberapa instansi, seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi, Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Frankfurt Zoological Society, dan Forest Programme II.
Ditulis oleh: Tungga Dewi Hastomo Putri
“You are what you eat” adalah frasa bahasa Inggris yang mungkin cocok dirasa untuk mengawali artikel ini. Ungkapan tersebut banyak digunakan untuk mengulik hubungan di balik manusia dan pilihan dietnya dengan berbagai aspek kehidupan seperti perilaku, mentalitas, filosofi bahkan hingga status sosial dan komunitas tempat dia berada atau berasal. Tapi, semenjak manusia secara taxonomi juga merupakan anggota family Homonidae, saya rasa ungkapan tersebut juga dapat digunakan sebagai acuan dalam kita merumuskan research question untuk penelitian diet hewan.
Ditulis oleh: Giot M I Simanullang
Berbicara tentang gajah sepertinya tidak ada habisnya, mamalia terbesar ini memiliki keunikan tersendiri, mulai dari perilaku, kehidupan berkelompoknya, hingga cara mereka berkomunikasi. Keunikan inilah yang membuat saya ingin mengenal lebih jauh lagi mamalia yang satu ini terlebih tentang cara mereka berkomunikasi, Beberapa bulan yang lalu saya berkesempatan melakukan penelitian tentang vokalisasi gajah di salah satu taman nasional di pulau Sumatera yaitu Taman Nasional Gunung Leuser tepatnya di CRU (Conservation Responses Unit) Tangkahan atau saat ini disebut Pusat Latihan Satwa Khusus, Resor Tangkahan. Untuk menuju lokasi ini dapat dicapai dengan kendaraan umum atau pribadi selama 3-4 jam dari kota Medan. Resor Tangkahan termasuk zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Leuser. Wilayah ini merupakan tempat wisata yang menyimpan banyak potensi dan keindahan di dalamnya, banyak yang menyebutnya “The Real Hidden Paradise“, dan memang benar keindahan sungai. jembatan, hamparan hutan luas dan segala sesuatu di dalamnya memang patut diacungi jempol.
Ditulis oleh: Rahma Ayu Nabila

September lalu, saya menuju ke salah satu taman nasional tertua di Indonesia, Taman Nasional Gunung Leuser. Disambut oleh hujan yang makin deras, jalan berbatu penuh lumpur di tengah- tengah kebun sawit. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Sumatera, memantapkan diri tuk melakukan perjalanan agak ke utara, tepatnya di Conservation Response Unit (CRU) yang merupakan bagian dari Resort Tangkahan, Taman Nasional Gunung Leuser. Dilansir dari crutangkahan.org, CRU Tangkahan didirikan pada 2002 sebagai bagian dari Program Konservasi Gajah Sumatera. Hingga saat ini, terdapat sepuluh gajah Sumatera yang menjadi bagian dari CRU Tangkahan.
Ditulis oleh: Hastin Ambar Asti
Bulan Agustus lalu, saya berkesempatan melihat jejak kebakaran hutan dan lahan gambut tahun 2015 di kawasan Laboratorium Alam Hutan Gambut (LAHG) CIMTROP, Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Selama kurang lebih 20 hari, saya melakukan penelitian mengenai respon komunitas herpetofauna pasca kebakaran di hutan rawa gambut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang respon komunitas herpetofauna terhadap kebakaran di hutan rawa gambut dan informasi tentang daerah yang dapat menjadi refugia dan sumber rekolonisasi pada tahap suksesi selanjutnya. Penelitian ini bisa berjalan dengan lancar atas dukungan dari Borneo Nature Foundation (BNF) dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia.